Nilai, Etika, dan Tanggung Jawab Moral
Ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan sebelum berbicara lebih jauh tentang kebebasan berpendapat.
Untuk apa sebenarnya kita menggunakan kebebasan itu?
Pertanyaan ini penting.
Sebab memiliki kebebasan untuk berbicara tidak otomatis berarti bahwa setiap bentuk ucapan menjadi benar secara etis.
Kita memang memiliki kebebasan untuk menyampaikan pendapat.
Tetapi kebebasan selalu membawa tanggung jawab.
Di sinilah aksiologi menjadi penting.
Aksiologi berbicara tentang nilai dan etika yang melandasi tindakan manusia. Dalam konteks literasi digital, pertanyaannya bukan hanya apakah seseorang boleh menyampaikan pendapat, tetapi juga:
Untuk apa kebebasan berpendapat digunakan?
Dan yang tidak kalah penting:
Di mana batas-batas etisnya?
Kebebasan Bukan Tanpa Batas
Kebebasan berpendapat bukanlah ketelanjangan tanpa batas (unbridled freedom).
Kebebasan bukan berarti seseorang dapat mengatakan apa pun tanpa mempertimbangkan tanggung jawab moral yang menyertainya.
Ada kehendak bebas.
Tetapi ada pula tanggung jawab.
Ada hak untuk berbicara.
Tetapi ada batas etis yang perlu diperhatikan.
Dalam kehidupan digital, hal ini menjadi semakin penting karena sebuah pendapat dapat dengan cepat berpindah dari satu orang kepada orang lain.
Apa yang kita tuliskan bukan lagi hanya milik ruang pribadi kita.
Ia dapat menjadi bagian dari ruang publik.
Bayangkan seseorang melihat sebuah unggahan di Instagram tentang kebijakan kampus yang tidak ia setujui. Ia kemudian menulis komentar:
"Kebijakan ini tidak masuk akal dan perlu dikritik."
Itu adalah pendapat.
Namun beberapa komentar kemudian berubah menjadi:
"Orang yang membuat kebijakan ini memang tidak becus."
Kemudian orang lain menambahkan:
"Jangan percaya lagi kepada mereka. Semua isinya pasti gagal."
Di sini kita dapat melihat bagaimana sebuah kritik perlahan dapat bergeser menjadi serangan terhadap pribadi.
Kritik terhadap kebijakan dan penghinaan terhadap orang yang membuat kebijakan bukanlah hal yang sama.
Kebebasan berpendapat tetap ada.
Tetapi tanggung jawab moral juga tetap ada.
Karena itu, sebelum menyampaikan pendapat, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita ajukan kepada diri sendiri:
Apakah cara saya berpendapat dapat diterima jika semua orang melakukan hal yang sama?
Pertanyaan tersebut mengingatkan kita pada pemikiran Immanuel Kant melalui gagasan Categorical Imperative.
Kant mengajak manusia untuk mempertimbangkan apakah prinsip yang mendasari tindakannya dapat dijadikan prinsip universal.
Dalam konteks berpendapat di ruang digital, pertanyaannya menjadi sangat sederhana:
Jika cara saya berbicara dijadikan hukum umum dan semua orang berbicara dengan cara yang sama, apakah tatanan sosial masih dapat berjalan dengan baik?
Misalnya, kita tidak setuju dengan seseorang di X.
Apakah kemudian kita merasa wajar menyebutnya dengan kata-kata kasar?
Kalau semua orang melakukan hal yang sama setiap kali berbeda pendapat, apa yang terjadi dengan ruang diskusi?
Atau ketika seseorang mengunggah kritik terhadap sebuah isu di TikTok. Kita tidak setuju dengan pandangannya. Apakah ketidaksetujuan tersebut cukup dijawab dengan argumen, atau justru kita mengajak orang lain menyerang akun tersebut?
Kita mungkin merasa hanya sedang menulis satu komentar.
Tetapi jika jutaan orang menggunakan pola yang sama, ruang digital akan berubah menjadi ruang yang penuh serangan.
Pertanyaan Kant menjadi relevan:
Apakah cara saya berpendapat dapat menjadi cara yang layak dilakukan oleh semua orang?
Jika jawabannya tidak, mungkin kita perlu berhenti sejenak sebelum menekan tombol kirim.
Martabat Manusia Tidak Hilang di Balik Layar
Ada hal lain yang perlu kita ingat ketika berpendapat di ruang digital.
Di balik setiap akun ada manusia.
Nama pengguna mungkin hanya beberapa huruf.
Foto profil mungkin hanya sebuah gambar.
Komentar mungkin hanya terlihat sebagai rangkaian kata di layar.
Tetapi orang yang berada di baliknya tetap manusia.
Ia memiliki martabat.
Karena itu, kebebasan berpendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan martabat orang lain.
Inilah pentingnya nilai Human Dignity atau martabat manusia.
Aksiologi dalam literasi digital mengajarkan bahwa setiap ekspresi perlu tetap menghormati kemanusiaan orang lain.
Kita boleh berbeda pendapat.
Kita boleh tidak setuju.
Kita bahkan boleh menyampaikan kritik.
Tetapi perbedaan tersebut tidak seharusnya membawa kita pada dehumanisasi.
Contohnya sederhana.
Seseorang mengunggah video di TikTok tentang pandangannya terhadap suatu persoalan. Pendapatnya berbeda dengan mayoritas pengguna yang melihat video tersebut.
Kemudian muncul komentar:
"Kok bisa sih orang seperti ini berpikir?"
Komentar berikutnya:
"Dasar manusia tidak berguna."
Lalu beberapa akun lain ikut menyerang penampilan, keluarga, bahkan kehidupan pribadinya.
Pada awalnya persoalannya adalah perbedaan pendapat.
Tetapi kemudian berubah menjadi serangan terhadap manusia.
Di sinilah dehumanisasi dapat terjadi.
Orang tidak lagi diperlakukan sebagai manusia yang memiliki martabat dan hak untuk berbeda, tetapi hanya sebagai sasaran kemarahan.
Hal yang sama dapat terjadi di grup WhatsApp.
Seseorang mengemukakan pendapat yang tidak disukai anggota grup. Alih-alih menjawab argumennya, beberapa anggota mulai mengirim meme yang mempermalukan orang tersebut.
Mungkin dianggap bercanda.
Tetapi bagi orang yang menjadi sasaran, pengalaman tersebut belum tentu terasa sebagai candaan.
Karena itu, bahasa yang santun bukan sekadar persoalan sopan santun.
Ia merupakan bagian dari penghormatan terhadap manusia.
Adab dalam berdiskusi juga bukan sekadar aturan formal.
Ia merupakan cara kita mengakui bahwa orang lain tetap memiliki martabat meskipun memiliki pendapat yang berbeda dengan kita.
Begitu pula dengan cyberbullying.
Perundungan di ruang digital bukan sekadar persoalan komunikasi yang kasar.
Ia menunjukkan bagaimana kebebasan berekspresi dapat kehilangan nilai kemanusiaannya ketika digunakan untuk merendahkan orang lain.
Maka ketika kita menulis sesuatu di ruang digital, ada baiknya kita kembali mengingat satu hal:
orang yang sedang kita bicarakan tetaplah manusia.
Pendapat dan Kemanfaatan Umum
Lalu muncul pertanyaan berikutnya.
Jika kebebasan berpendapat harus bertanggung jawab dan tetap menghormati martabat manusia, untuk apa pendapat tersebut disampaikan?
Salah satu jawabannya dapat kita temukan dalam gagasan utilitarianisme.
Dalam pandangan utilitarianisme, suatu tindakan idealnya diarahkan pada kemanfaatan sebesar-besarnya bagi sebanyak mungkin orang.
The greatest happiness for the greatest number.
Jika gagasan ini kita bawa ke ruang publik digital, maka sebuah pendapat idealnya tidak hanya dilihat dari keinginan orang yang menyampaikannya.
Kita juga perlu melihat dampaknya terhadap orang lain.
Misalnya, seseorang menemukan informasi mengenai penggalangan dana untuk korban bencana.
Ia kemudian membagikan informasi tersebut melalui WhatsApp, Instagram Story, dan grup komunitas.
Informasi tersebut membantu orang lain mengetahui kebutuhan korban dan mendorong lebih banyak orang memberikan bantuan.
Dalam situasi seperti ini, ruang digital digunakan untuk menghasilkan kemanfaatan.
Tetapi bayangkan situasi yang berbeda.
Seseorang mendapatkan informasi yang belum jelas kebenarannya tentang adanya penculikan anak di sebuah wilayah. Ia langsung membagikannya ke berbagai grup WhatsApp dengan tujuan memperingatkan orang lain.
Orang-orang kemudian panik.
Pesan tersebut terus diteruskan.
Padahal informasi itu ternyata tidak benar atau tidak sesuai dengan konteks yang sebenarnya.
Niat awalnya mungkin ingin membantu.
Tetapi dampaknya justru menimbulkan keresahan.
Di sinilah kita belajar bahwa niat baik saja belum cukup.
Dampak dari sebuah tindakan juga perlu dipertimbangkan.
Pertanyaan yang dapat kita ajukan adalah:
Apakah pendapat atau informasi yang saya sampaikan memberikan kemanfaatan bagi orang lain?
Ruang digital memberikan contoh yang sangat banyak.
Sebuah unggahan dapat menggalang bantuan untuk seseorang yang sedang mengalami kesulitan.
Sebuah komentar dapat memberikan informasi yang membantu orang lain memahami sebuah persoalan.
Sebuah video dapat mengedukasi masyarakat mengenai sesuatu yang sebelumnya tidak mereka pahami.
Tetapi ruang digital juga dapat digunakan untuk menyebarkan ujaran kebencian (hate speech), mempermalukan seseorang, atau memperbesar polarisasi.
Dalam kondisi seperti itu, kebebasan berpendapat tidak lagi menghasilkan kemanfaatan bagi kehidupan bersama.
Ketika Perbedaan Berubah Menjadi Polarisasi
Kita dapat melihatnya dalam berbagai perdebatan di media sosial.
Awalnya seseorang menulis:
"Saya tidak setuju dengan pendapat tersebut."
Kemudian muncul balasan:
"Kalau tidak setuju, berarti kamu tidak memahami persoalannya."
Balasan berikutnya menjadi:
"Kelompok kalian memang selalu seperti itu."
Tidak lama kemudian muncul komentar lain:
"Jangan pernah percaya orang dari kelompok tersebut."
Perhatikan perubahannya.
Yang awalnya hanya berbeda pendapat, perlahan berubah menjadi pengelompokan.
Dari pendapat menjadi identitas.
Dari identitas menjadi pertentangan.
Dari pertentangan menjadi permusuhan.
Inilah salah satu bentuk polarisasi yang destruktif.
Perbedaan sebenarnya bukan persoalan.
Masyarakat memang terdiri dari manusia yang memiliki pandangan berbeda.
Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan tersebut digunakan untuk membangun kebencian dan menghilangkan ruang untuk berdiskusi.
Karena itu, nilai kemanfaatan umum mengingatkan kita bahwa pendapat yang disampaikan di ruang publik digital idealnya tidak memperburuk kehidupan bersama.
Pendapat tidak harus selalu menyenangkan.
Pendapat juga tidak harus selalu membuat semua orang setuju.
Tetapi pendapat yang disampaikan di ruang publik digital idealnya memiliki orientasi pada kemanfaatan bagi kehidupan bersama.
Tiga Pertanyaan Sebelum Menekan Tombol Kirim
Dari ketiga nilai tersebut, kita dapat membawa tiga pertanyaan sederhana setiap kali hendak menggunakan kebebasan berpendapat di ruang digital.
Pertama: Apakah cara saya berpendapat dapat dijadikan prinsip yang berlaku bagi semua orang?
Ini membawa kita pada pemikiran Kant tentang tanggung jawab moral dan prinsip universal.
Kedua: Apakah pendapat saya tetap menghormati martabat manusia?
Ini mengingatkan kita pada nilai Human Dignity dan pentingnya menghindari dehumanisasi serta cyberbullying.
Ketiga: Apakah pendapat saya memberikan kemanfaatan bagi kehidupan bersama?
Ini membawa kita pada nilai utilitarianisme tentang kemanfaatan umum.
Tiga pertanyaan tersebut mungkin terlihat sederhana.
Tetapi justru kesederhanaannya membuatnya mudah digunakan.
Sebelum menulis komentar di Instagram.
Sebelum membalas unggahan di X.
Sebelum meneruskan pesan di WhatsApp.
Sebelum membuat video di TikTok.
Kita dapat berhenti sejenak.
Bukan untuk takut berbicara.
Bukan pula untuk membatasi kebebasan.
Tetapi untuk memastikan bahwa kebebasan yang kita gunakan tetap memiliki nilai.
Sebab pada akhirnya, kebebasan berpendapat bukan hanya tentang apa yang dapat kita katakan.
Ia juga tentang bagaimana kita menggunakannya secara bertanggung jawab, bagaimana kita menghormati martabat manusia, dan bagaimana pendapat tersebut memberikan kemanfaatan bagi kehidupan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar