Karier,
Green Career, dan Green Social Work
Refleksi Kegiatan
Green Future Talks
Pusat Karier UIN Jakarta X Green Career Gate
18 September 2026
Ada masa ketika orang memilih
pekerjaan dengan pertanyaan yang sederhana: berapa gajinya?
Pertanyaan itu tentu tidak salah.
Kita bekerja untuk hidup. Ada kebutuhan rumah tangga yang harus dibayar,
pendidikan anak yang harus dipikirkan, cicilan yang harus diselesaikan, dan
masa depan yang tidak mungkin dibangun hanya dengan idealisme.
Tetapi dunia kerja sedang
berubah.
Pertanyaan tentang karier
perlahan tidak lagi berhenti pada soal berapa besar pendapatan yang diterima
seseorang. Muncul pertanyaan lain yang semakin sulit dihindari: pekerjaan kita
menghasilkan apa bagi lingkungan? Apa dampaknya bagi masyarakat? Apakah pekerjaan
yang kita bangun hari ini ikut menyelesaikan persoalan sosial dan ekologis,
atau justru memperpanjang masalah?
Di titik itulah pembicaraan
tentang green career menjadi penting.
Sebab krisis ekologis pada
akhirnya bukan hanya persoalan pohon yang ditebang, sungai yang tercemar, udara
yang semakin buruk, atau perubahan iklim yang terasa semakin dekat. Krisis
ekologis juga merupakan persoalan pekerjaan, pendidikan, kemiskinan, kesehatan,
ketimpangan, dan masa depan manusia.
Dengan kata lain, persoalan
lingkungan pada akhirnya adalah persoalan sosial.
Karier yang Tidak Berhenti pada
Diri Sendiri Selama ini karier sering dipahami sebagai perjalanan individual. Seseorang
kuliah, mendapatkan pekerjaan, naik jabatan, memperoleh penghasilan, lalu
mencapai posisi tertentu dalam organisasi.
Karier seolah-olah merupakan
tangga. Semakin tinggi seseorang menaiki tangga tersebut, semakin berhasil ia
dianggap. Padahal, tidak semua tangga membawa kita ke tempat yang lebih baik.
Ada pekerjaan yang memberikan
pendapatan tinggi tetapi meninggalkan kerusakan ekologis. Ada perusahaan yang
tumbuh cepat tetapi menghasilkan limbah yang harus ditanggung masyarakat
sekitar. Ada pula pekerjaan yang terlihat biasa saja, tetapi setiap hari sesungguhnya
berkontribusi pada penghematan energi, pengurangan sampah, pengelolaan sumber
daya, perlindungan lingkungan, atau peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, sudah waktunya kita
melihat karier bukan hanya sebagai apa yang kita dapatkan dari pekerjaan,
tetapi juga apa yang pekerjaan kita berikan kepada kehidupan.
Dalam perspektif ilmu
kesejahteraan sosial, cara pandang semacam ini menjadi penting. Isbandi
Rukminto Adi menjelaskan ilmu kesejahteraan sosial dalam hubungan yang luas
dengan pekerjaan sosial, pembangunan sosial, dan kajian pembangunan.
Kesejahteraan tidak berdiri sebagai persoalan individual semata, melainkan
berkaitan dengan bagaimana masyarakat membangun kondisi kehidupan yang lebih
baik.
Karier, dengan demikian, bukan
semata-mata perjalanan menuju kesejahteraan personal. Ia juga dapat menjadi
jalan untuk menciptakan kesejahteraan sosial.
Di sinilah gagasan tentang green
career memperoleh relevansinya.
Green Career: Ketika Pekerjaan
Memiliki Tanggung Jawab Ekologis
Green career secara sederhana
dapat dipahami sebagai perjalanan karier yang berhubungan dengan upaya menjaga,
memulihkan, atau meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus mendukung
keberlanjutan kehidupan.
Tetapi green career tidak boleh
dipersempit hanya menjadi pekerjaan yang memakai label “hijau”.
International Labour Organization
(ILO) mendefinisikan green jobs sebagai pekerjaan layak yang berkontribusi
terhadap pelestarian atau pemulihan lingkungan. Pekerjaan tersebut dapat berada
di sektor yang memang sejak awal berhubungan dengan lingkungan maupun pada
sektor tradisional yang sedang melakukan proses penghijauan.
Artinya, pekerjaan hijau tidak
hanya milik insinyur energi terbarukan, ahli lingkungan, atau pekerja
konservasi.
Seorang akuntan dapat membantu
organisasi menerapkan pelaporan keberlanjutan. Seorang ahli teknologi informasi
dapat mengembangkan sistem yang menghemat energi dan sumber daya. Seorang
pekerja pemasaran dapat mendorong konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Seorang guru dapat membangun kesadaran ekologis generasi muda. Seorang pekerja
sosial dapat mendampingi masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan akibat
perubahan lingkungan.
ILO bahkan menekankan bahwa
setiap pekerjaan pada prinsipnya dapat menjadi lebih hijau melalui perubahan
proses, keterampilan, dan kontribusinya terhadap keberlanjutan.
Dengan demikian, green career
bukan hanya tentang jenis pekerjaan, tetapi tentang arah dan dampak perjalanan
profesional seseorang.
Green Skills: Ketika
Kompetensi Tidak Lagi Cukup
Selam aini, kita mengenal hard
skills dan soft skills. Kini muncul kebutuhan yang semakin kuat terhadap green
skills.
Green skills bukan sekadar
kemampuan teknis mengenai lingkungan. ILO membedakan green skills dengan skills
for green jobs. Green skills berkaitan dengan kompetensi yang memungkinkan
seseorang menjalankan aktivitas yang berkontribusi langsung terhadap keberlanjutan
lingkungan, sedangkan skills for green jobs lebih luas karena mencakup
keterampilan kognitif, sosial-emosional, teknis, dan manual yang dibutuhkan
untuk melakukan pekerjaan dalam proses transisi hijau.
Ini berarti mahasiswa tidak cukup
hanya bertanya:
“Skill apa yang dibutuhkan
perusahaan?”
Tetapi juga:
“Skill apa yang dibutuhkan dunia
yang sedang berubah?”
Kemampuan membaca data, berpikir
kritis, bekerja kolaboratif, memecahkan masalah, beradaptasi dengan teknologi,
memahami keberlanjutan, dan memiliki kesadaran ekologis akan semakin bertemu
dalam dunia kerja.
Karena itu, green career
sebenarnya bukan profesi baru. Ia adalah cara baru membaca masa depan profesi.
Dari Green Job Menuju Green
Career
Green job dapat menjadi salah
satu pekerjaan dalam green career.
Tetapi green career mempunyai
cakupan yang lebih luas.
Green career merupakan perjalanan
seseorang untuk membangun kompetensi, pengalaman, nilai, dan orientasi
profesional yang semakin memperhatikan keberlanjutan.
Seorang mahasiswa mungkin hari
ini belum bekerja pada sektor lingkungan. Tetapi ia dapat mulai membangun green
career sejak berada di bangku kuliah.
Ia belajar tentang ekonomi
sirkular. Ia mengikuti kegiatan pengelolaan sampah. Ia melakukan penelitian
mengenai ketahanan masyarakat menghadapi bencana. Ia magang di organisasi yang
mempunyai agenda keberlanjutan. Ia mengembangkan kompetensi digital untuk
membantu efisiensi sumber daya.
Karier, dengan demikian, dimulai
jauh sebelum seseorang menerima surat pengangkatan kerja.
Karier dimulai dari cara
seseorang melihat masa depan.
Lalu, Di Mana Posisi Social Work?
Di sinilah pembicaraan tentang
green social work menjadi menarik.
Pekerjaan sosial selama ini
dikenal sebagai profesi yang berhadapan dengan persoalan manusia: kemiskinan,
ketimpangan, kekerasan, disabilitas, keluarga, anak, lansia, komunitas,
bencana, dan berbagai persoalan sosial lainnya.
Tetapi manusia tidak hidup di
ruang kosong. Manusia hidup di dalam lingkungan.
Pemikiran Lena Dominelli menjadi
salah satu fondasi penting dalam pembicaraan ini. Dalam Green Social Work: From
Environmental Crises to Environmental Justice, Dominelli menempatkan krisis
lingkungan dalam kaitannya dengan kesejahteraan manusia, kemiskinan,
ketimpangan struktural, distribusi sumber daya, dan keadilan lingkungan.
Bagi Dominelli, persoalan
lingkungan bukan urusan yang berada di luar pekerjaan sosial. Justru ketika
kerusakan lingkungan semakin memengaruhi kehidupan masyarakat miskin dan
kelompok marginal, pekerjaan sosial perlu memperluas perhatiannya.
Dalam artikelnya tentang greening
the profession, Dominelli menempatkan environmental justice sebagai bagian
penting dari praktik pekerjaan sosial dan menghubungkannya dengan perubahan
iklim, bencana, hak asasi manusia, serta kesejahteraan manusia dan ekosistem.
Gagasannya sederhana tetapi
mendalam:
bagaimana mungkin kita berbicara
tentang kesejahteraan manusia jika lingkungan yang menopang kehidupan manusia
terus mengalami kerusakan?
Lingkungan Rusak, Masalah Sosial
Bertambah
Ketika sebuah sungai tercemar,
yang terkena dampaknya bukan hanya sungai.
Masyarakat kehilangan sumber air.
Nelayan kehilangan penghasilan.
Anak-anak menghadapi risiko
kesehatan.
Keluarga mengalami tekanan
ekonomi.
Komunitas kehilangan sumber
penghidupan.
Ketika terjadi banjir dan bencana
ekologis, kerusakan lingkungan dapat berubah menjadi kehilangan pekerjaan,
kehilangan rumah, migrasi, konflik sosial, trauma, dan kemiskinan baru.
Karena itu, memisahkan persoalan
sosial dari persoalan ekologis menjadi semakin sulit.
Penelitian di Indonesia yang
dilakukan Risya Ananda Putri, Santoso Tri Raharjo, dan Risna Resnawaty
menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan dan green social work memiliki
hubungan yang erat karena pembangunan yang terlalu berorientasi pada aktivitas ekonomi
dapat mengabaikan dimensi sosial-ekologis. Mereka menempatkan jaringan pemangku
kepentingan dan internalisasi prinsip green social work sebagai bagian penting
dalam pengembangan kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian:
Green social work hadir dari
kesadaran bahwa kesejahteraan manusia tidak mungkin dipisahkan dari
keberlanjutan lingkungan tempat manusia hidup.
Indonesia Tidak Kekurangan
Tradisi Kesejahteraan Sosial
Pembicaraan green social work di
Indonesia sebenarnya bukan sesuatu yang datang dari ruang kosong.
Tradisi ilmu kesejahteraan sosial
Indonesia telah lama membicarakan hubungan antara kesejahteraan, pembangunan,
pemberdayaan, komunitas, dan lingkungan.
Isbandi Rukminto Adi, misalnya,
menempatkan pembangunan sosial dan pembangunan yang berpusat pada manusia
sebagai bagian penting dalam memahami kesejahteraan sosial.
Dalam pemikirannya, kesejahteraan
sosial tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan dan intervensi sosial
pada berbagai tingkat.
Perspektif tersebut menjadi
relevan ketika kita berbicara tentang green career.
Mengapa?
Karena transisi menuju ekonomi
hijau bukan hanya membutuhkan teknologi hijau. Ia membutuhkan manusia yang
mampu beradaptasi, masyarakat yang mampu berpartisipasi, dan kebijakan yang
mampu memastikan agar manfaat pembangunan tidak hanya dinikmati oleh kelompok
tertentu.
Di sinilah ilmu kesejahteraan sosial dapat memainkan peran.
Green Social Work dan Keadilan
Sosial
Ada persoalan keadilan yang tidak
boleh dilupakan. Kerusakan lingkungan tidak selalu dibayar secara proporsional
oleh semua orang. Mereka yang memiliki sumber daya ekonomi lebih besar biasanya
memiliki lebih banyak pilihan untuk menghindari risiko, berpindah tempat,
memperoleh layanan kesehatan, atau memulihkan kehidupan setelah bencana.
Sebaliknya, kelompok miskin
sering kali tinggal di wilayah yang lebih rentan, bekerja pada sektor yang
lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan, dan memiliki sumber daya
pemulihan yang lebih terbatas.
Di sinilah konsep keadilan sosial
bertemu dengan keadilan lingkungan.
Meilanny Budiarti Santoso dan
Nunung Nurwati, dalam kajian mengenai peran pekerjaan sosial dalam menangani
persoalan lingkungan, menunjukkan bahwa praktik pekerjaan sosial dalam isu
lingkungan memiliki legitimasi baik secara konseptual maupun dalam perkembangan
organisasi profesi pekerjaan sosial di tingkat global.
Artinya, pekerja sosial tidak
sedang memasuki wilayah yang sama sekali asing.
Justru dunia sedang membawa
pekerjaan sosial kembali kepada pertanyaan dasarnya:
Bagaimana meningkatkan kualitas
hidup manusia?
Dan hari ini jawabannya semakin
jelas: tidak mungkin tanpa lingkungan yang layak.
Green Social Worker Bukan
Sekadar Pekerja Sosial yang Menanam Pohon
Menambahkan kata “green” di depan
social work tidak semestinya hanya berarti menanam pohon setelah kegiatan
komunitas selesai.
Green social work membutuhkan
perubahan cara pandang.
Pekerja sosial perlu memahami
bahwa persoalan lingkungan dapat menghasilkan persoalan sosial. Sebaliknya,
persoalan sosial juga dapat memperbesar kerentanan ekologis.
Karena itu, kompetensi pekerja
sosial masa depan perlu semakin terbuka terhadap isu perubahan iklim,
kebencanaan, ketahanan komunitas, ketahanan pangan, energi, pengelolaan sumber
daya, kesehatan lingkungan, ekonomi sirkular, serta pembangunan berkelanjutan.
Tetapi lebih dari itu, pekerja
sosial perlu memiliki kemampuan untuk bekerja bersama masyarakat.
Sebab masyarakat bukan sekadar
objek yang harus “diselamatkan”.
Masyarakat memiliki pengetahuan,
pengalaman, dan kemampuan untuk menemukan jalan keluar atas persoalannya
sendiri.
Tugas pekerja sosial bukan datang
sebagai orang yang paling tahu, tetapi membantu membuka ruang agar pengetahuan
dan kekuatan masyarakat dapat bekerja.
Penelitian Riany Laila Nurwulan
mengenai penerapan green social work dalam program CSR lingkungan di Bandung,
misalnya, menunjukkan bahwa praktik pekerjaan sosial dapat mengintegrasikan
peningkatan kesadaran lingkungan, pertanian berkelanjutan, dan peningkatan
kualitas hidup masyarakat.
Jadi green social work bukan
teori yang berhenti di ruang kelas.
Ia dapat hadir di desa,
perusahaan, sekolah, komunitas, lembaga pemerintah, organisasi masyarakat
sipil, dan ruang-ruang kehidupan masyarakat lainnya.
Dari Kesejahteraan Sosial ke
Kesejahteraan Ekologis
Adi Fahrudin membedakan
kesejahteraan sosial dengan pekerjaan sosial. Kesejahteraan sosial dapat
dipahami sebagai kondisi, program pelayanan, sekaligus bidang pelayanan,
sedangkan pekerjaan sosial merupakan disiplin ilmu sosial terapan dan profesi
berbasis praktik yang menjadi salah satu instrumen penting dalam arena
kesejahteraan sosial.
Pembedaan ini penting. Sebab
ketika kita berbicara tentang green social work, kita tidak sedang mengatakan
bahwa seluruh persoalan lingkungan harus diselesaikan oleh pekerja sosial. Tidak.
Pekerja sosial bukan ahli tunggal yang memiliki semua jawaban.
Persoalan ekologis membutuhkan
kerja lintas disiplin.
Ada ahli lingkungan.
Ada ekonom.
Ada perencana wilayah.
Ada insinyur.
Ada tenaga kesehatan.
Ada ahli kebijakan publik.
Ada masyarakat lokal.
Dan ada pekerja sosial.
Pekerjaan sosial membawa kekuatan
khasnya: menghubungkan manusia, komunitas, sumber daya, pelayanan, kebijakan,
dan perubahan sosial.
Di sinilah green social work dapat menjadi jembatan.
Kampus dan Masa Depan Green
Career
Perguruan tinggi memiliki posisi
strategis dalam membangun green career. Career center tidak cukup hanya
menyediakan informasi lowongan kerja.
Career center perlu mulai
memperkenalkan green career literacy: kemampuan mahasiswa mengenali perubahan
dunia kerja yang berkaitan dengan keberlanjutan, mengidentifikasi green skills,
membaca kebutuhan industri, serta menghubungkan kompetensi akademik dengan
persoalan ekologis dan sosial.
Mahasiswa perlu dibantu menjawab
pertanyaan:
Apa kompetensi saya?
Masalah apa yang dapat saya bantu
selesaikan?
Industri apa yang sedang berubah?
Bgaimana perubahan ekologis
menciptakan jenis pekerjaan baru?
Dan yang tidak kalah penting:
pekerjaan seperti apa yang ingin saya bangun untuk kehidupan yang lebih
berkelanjutan?
Bagi mahasiswa kesejahteraan
sosial, pertanyaan itu menjadi semakin menarik.
Sebab mereka tidak hanya memiliki
kesempatan bekerja sebagai pekerja sosial.
Mereka dapat masuk ke bidang
community development, CSR, ESG, sustainability, pemberdayaan masyarakat,
kebencanaan, environmental advocacy, social enterprise, sustainable livelihood,
policy development, hingga pengembangan program keberlanjutan perusahaan dan
pemerintah.
Dengan kata lain, green
transition membuka ruang baru bagi lulusan kesejahteraan sosial.
Career Center Harus Mulai
Berubah
Jika dunia kerja berubah, maka
layanan karier juga harus berubah.
Career center tidak cukup menjadi
tempat mahasiswa mencari lowongan.
Career center harus menjadi ruang
untuk membaca masa depan pekerjaan.
Mahasiswa perlu dikenalkan pada
perubahan struktur pekerjaan, green jobs, green skills, pekerjaan yang
terdampak transisi energi, serta kompetensi yang dibutuhkan dalam ekonomi
berkelanjutan.
ILO sendiri menekankan bahwa
keterampilan untuk green jobs tidak terbatas pada keterampilan teknis
lingkungan. Keterampilan kognitif dan sosial-emosional juga diperlukan agar
pekerja mampu beradaptasi dengan proses transisi hijau.
Ini berarti pendidikan karier
harus mulai bergerak:dari job seeking menuju career building; dari employment
menuju employability; dari hard skills menuju kombinasi hard skills, soft
skills, dan green skills;dan akhirnya, dari karier individual menuju karier
yang memiliki dampak sosial-ekologis.
Karier sebagai Jalan
Pengabdian
Pada akhirnya, kita perlu
mengembalikan pembicaraan tentang karier kepada pertanyaan yang lebih sederhana
sekaligus lebih mendasar.
Untuk apa kita bekerja?
Jawabannya tentu berbeda-beda.
Ada yang bekerja untuk keluarga.
Ada yang ingin mengembangkan
dirinya.
Ada yang mengejar kebebasan
finansial.
Ada yang ingin membangun
perusahaan.
Ada yang ingin menjadi
profesional di bidang tertentu.
Semua itu sah.
Tetapi barangkali ada satu ruang
yang dapat kita tambahkan: kontribusi. Karier yang baik bukan hanya karier yang
membuat seseorang naik secara personal.
Karier juga dapat menjadi ruang
untuk membuat orang lain tumbuh, komunitas menjadi lebih kuat, dan lingkungan
menjadi lebih terjaga.
Di situlah green career bertemu
dengan green social work.
Dominelli mengingatkan bahwa
pekerjaan sosial perlu memperhatikan hubungan antara kesejahteraan manusia dan
lingkungan. Isbandi mengingatkan bahwa kesejahteraan sosial berkaitan dengan
pembangunan sosial dan manusia. Para akademisi pekerjaan sosial di Indonesia
juga semakin menunjukkan bahwa persoalan lingkungan merupakan wilayah yang sah
dan penting bagi praktik pekerjaan sosial.
Keduanya bertemu pada satu
kesadaran: manusia tidak dapat sejahtera sendirian. Kita membutuhkan masyarakat
yang sejahtera.
Kita membutuhkan lingkungan yang
sehat.
Kita membutuhkan pekerjaan yang
layak.
Dan kita membutuhkan generasi
pekerja yang mampu membaca hubungan di antara semuanya.
Kita sedang memasuki dunia kerja
yang membutuhkan orang-orang yang tidak hanya mampu bekerja, tetapi juga mampu
memahami perubahan.
Tidak hanya memiliki hard skills,
tetapi juga memiliki green skills.
Tidak hanya mengejar pekerjaan,
tetapi memahami dampak pekerjaannya.
Tidak hanya bertanya:
“Apa yang bisa saya dapatkan dari
karier ini?”
Tetapi juga berani bertanya:
“Kehidupan seperti apa yang
sedang saya bantu bangun melalui pekerjaan saya?”
Barangkali di sanalah karier
menemukan maknanya yang lebih panjang.
Sebab pada akhirnya, kita semua
sedang bekerja bukan hanya untuk mengisi CV.
Kita sedang ikut menentukan
seperti apa dunia yang akan kita wariskan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar