Senin, 21 September 2026

Karier, Green Career, dan Green Social Work

 

Karier, Green Career, dan Green Social Work

Refleksi Kegiatan Green Future Talks

Pusat Karier UIN Jakarta X Green Career Gate

18 September 2026

 


Ada masa ketika orang memilih pekerjaan dengan pertanyaan yang sederhana: berapa gajinya?

Pertanyaan itu tentu tidak salah. Kita bekerja untuk hidup. Ada kebutuhan rumah tangga yang harus dibayar, pendidikan anak yang harus dipikirkan, cicilan yang harus diselesaikan, dan masa depan yang tidak mungkin dibangun hanya dengan idealisme.

Tetapi dunia kerja sedang berubah.

Pertanyaan tentang karier perlahan tidak lagi berhenti pada soal berapa besar pendapatan yang diterima seseorang. Muncul pertanyaan lain yang semakin sulit dihindari: pekerjaan kita menghasilkan apa bagi lingkungan? Apa dampaknya bagi masyarakat? Apakah pekerjaan yang kita bangun hari ini ikut menyelesaikan persoalan sosial dan ekologis, atau justru memperpanjang masalah?

Di titik itulah pembicaraan tentang green career menjadi penting.

Sebab krisis ekologis pada akhirnya bukan hanya persoalan pohon yang ditebang, sungai yang tercemar, udara yang semakin buruk, atau perubahan iklim yang terasa semakin dekat. Krisis ekologis juga merupakan persoalan pekerjaan, pendidikan, kemiskinan, kesehatan, ketimpangan, dan masa depan manusia.

Dengan kata lain, persoalan lingkungan pada akhirnya adalah persoalan sosial.

Karier yang Tidak Berhenti pada Diri Sendiri Selama ini karier sering dipahami sebagai perjalanan individual. Seseorang kuliah, mendapatkan pekerjaan, naik jabatan, memperoleh penghasilan, lalu mencapai posisi tertentu dalam organisasi.

Karier seolah-olah merupakan tangga. Semakin tinggi seseorang menaiki tangga tersebut, semakin berhasil ia dianggap. Padahal, tidak semua tangga membawa kita ke tempat yang lebih baik.

Ada pekerjaan yang memberikan pendapatan tinggi tetapi meninggalkan kerusakan ekologis. Ada perusahaan yang tumbuh cepat tetapi menghasilkan limbah yang harus ditanggung masyarakat sekitar. Ada pula pekerjaan yang terlihat biasa saja, tetapi setiap hari sesungguhnya berkontribusi pada penghematan energi, pengurangan sampah, pengelolaan sumber daya, perlindungan lingkungan, atau peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Karena itu, sudah waktunya kita melihat karier bukan hanya sebagai apa yang kita dapatkan dari pekerjaan, tetapi juga apa yang pekerjaan kita berikan kepada kehidupan.

Dalam perspektif ilmu kesejahteraan sosial, cara pandang semacam ini menjadi penting. Isbandi Rukminto Adi menjelaskan ilmu kesejahteraan sosial dalam hubungan yang luas dengan pekerjaan sosial, pembangunan sosial, dan kajian pembangunan. Kesejahteraan tidak berdiri sebagai persoalan individual semata, melainkan berkaitan dengan bagaimana masyarakat membangun kondisi kehidupan yang lebih baik.

Karier, dengan demikian, bukan semata-mata perjalanan menuju kesejahteraan personal. Ia juga dapat menjadi jalan untuk menciptakan kesejahteraan sosial.

Di sinilah gagasan tentang green career memperoleh relevansinya.

Green Career: Ketika Pekerjaan Memiliki Tanggung Jawab Ekologis

Green career secara sederhana dapat dipahami sebagai perjalanan karier yang berhubungan dengan upaya menjaga, memulihkan, atau meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan kehidupan.

Tetapi green career tidak boleh dipersempit hanya menjadi pekerjaan yang memakai label “hijau”.

International Labour Organization (ILO) mendefinisikan green jobs sebagai pekerjaan layak yang berkontribusi terhadap pelestarian atau pemulihan lingkungan. Pekerjaan tersebut dapat berada di sektor yang memang sejak awal berhubungan dengan lingkungan maupun pada sektor tradisional yang sedang melakukan proses penghijauan.

Artinya, pekerjaan hijau tidak hanya milik insinyur energi terbarukan, ahli lingkungan, atau pekerja konservasi.

Seorang akuntan dapat membantu organisasi menerapkan pelaporan keberlanjutan. Seorang ahli teknologi informasi dapat mengembangkan sistem yang menghemat energi dan sumber daya. Seorang pekerja pemasaran dapat mendorong konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Seorang guru dapat membangun kesadaran ekologis generasi muda. Seorang pekerja sosial dapat mendampingi masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan akibat perubahan lingkungan.

ILO bahkan menekankan bahwa setiap pekerjaan pada prinsipnya dapat menjadi lebih hijau melalui perubahan proses, keterampilan, dan kontribusinya terhadap keberlanjutan.

Dengan demikian, green career bukan hanya tentang jenis pekerjaan, tetapi tentang arah dan dampak perjalanan profesional seseorang.

Green Skills: Ketika Kompetensi Tidak Lagi Cukup

Selam aini, kita mengenal hard skills dan soft skills. Kini muncul kebutuhan yang semakin kuat terhadap green skills.

Green skills bukan sekadar kemampuan teknis mengenai lingkungan. ILO membedakan green skills dengan skills for green jobs. Green skills berkaitan dengan kompetensi yang memungkinkan seseorang menjalankan aktivitas yang berkontribusi langsung terhadap keberlanjutan lingkungan, sedangkan skills for green jobs lebih luas karena mencakup keterampilan kognitif, sosial-emosional, teknis, dan manual yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan dalam proses transisi hijau.

Ini berarti mahasiswa tidak cukup hanya bertanya:

“Skill apa yang dibutuhkan perusahaan?”

Tetapi juga:

“Skill apa yang dibutuhkan dunia yang sedang berubah?”

Kemampuan membaca data, berpikir kritis, bekerja kolaboratif, memecahkan masalah, beradaptasi dengan teknologi, memahami keberlanjutan, dan memiliki kesadaran ekologis akan semakin bertemu dalam dunia kerja.

Karena itu, green career sebenarnya bukan profesi baru. Ia adalah cara baru membaca masa depan profesi.

Dari Green Job Menuju Green Career

Green job dapat menjadi salah satu pekerjaan dalam green career.

Tetapi green career mempunyai cakupan yang lebih luas.

Green career merupakan perjalanan seseorang untuk membangun kompetensi, pengalaman, nilai, dan orientasi profesional yang semakin memperhatikan keberlanjutan.

Seorang mahasiswa mungkin hari ini belum bekerja pada sektor lingkungan. Tetapi ia dapat mulai membangun green career sejak berada di bangku kuliah.

Ia belajar tentang ekonomi sirkular. Ia mengikuti kegiatan pengelolaan sampah. Ia melakukan penelitian mengenai ketahanan masyarakat menghadapi bencana. Ia magang di organisasi yang mempunyai agenda keberlanjutan. Ia mengembangkan kompetensi digital untuk membantu efisiensi sumber daya.

Karier, dengan demikian, dimulai jauh sebelum seseorang menerima surat pengangkatan kerja.

Karier dimulai dari cara seseorang melihat masa depan.

Lalu, Di Mana Posisi Social Work?

Di sinilah pembicaraan tentang green social work menjadi menarik.

Pekerjaan sosial selama ini dikenal sebagai profesi yang berhadapan dengan persoalan manusia: kemiskinan, ketimpangan, kekerasan, disabilitas, keluarga, anak, lansia, komunitas, bencana, dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Tetapi manusia tidak hidup di ruang kosong. Manusia hidup di dalam lingkungan.

Pemikiran Lena Dominelli menjadi salah satu fondasi penting dalam pembicaraan ini. Dalam Green Social Work: From Environmental Crises to Environmental Justice, Dominelli menempatkan krisis lingkungan dalam kaitannya dengan kesejahteraan manusia, kemiskinan, ketimpangan struktural, distribusi sumber daya, dan keadilan lingkungan.

Bagi Dominelli, persoalan lingkungan bukan urusan yang berada di luar pekerjaan sosial. Justru ketika kerusakan lingkungan semakin memengaruhi kehidupan masyarakat miskin dan kelompok marginal, pekerjaan sosial perlu memperluas perhatiannya.

Dalam artikelnya tentang greening the profession, Dominelli menempatkan environmental justice sebagai bagian penting dari praktik pekerjaan sosial dan menghubungkannya dengan perubahan iklim, bencana, hak asasi manusia, serta kesejahteraan manusia dan ekosistem.

Gagasannya sederhana tetapi mendalam:

bagaimana mungkin kita berbicara tentang kesejahteraan manusia jika lingkungan yang menopang kehidupan manusia terus mengalami kerusakan?

Lingkungan Rusak, Masalah Sosial Bertambah

Ketika sebuah sungai tercemar, yang terkena dampaknya bukan hanya sungai.

Masyarakat kehilangan sumber air.

Nelayan kehilangan penghasilan.

Anak-anak menghadapi risiko kesehatan.

Keluarga mengalami tekanan ekonomi.

Komunitas kehilangan sumber penghidupan.

Ketika terjadi banjir dan bencana ekologis, kerusakan lingkungan dapat berubah menjadi kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, migrasi, konflik sosial, trauma, dan kemiskinan baru.

Karena itu, memisahkan persoalan sosial dari persoalan ekologis menjadi semakin sulit.

Penelitian di Indonesia yang dilakukan Risya Ananda Putri, Santoso Tri Raharjo, dan Risna Resnawaty menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan dan green social work memiliki hubungan yang erat karena pembangunan yang terlalu berorientasi pada aktivitas ekonomi dapat mengabaikan dimensi sosial-ekologis. Mereka menempatkan jaringan pemangku kepentingan dan internalisasi prinsip green social work sebagai bagian penting dalam pengembangan kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian:

Green social work hadir dari kesadaran bahwa kesejahteraan manusia tidak mungkin dipisahkan dari keberlanjutan lingkungan tempat manusia hidup.

Indonesia Tidak Kekurangan Tradisi Kesejahteraan Sosial

Pembicaraan green social work di Indonesia sebenarnya bukan sesuatu yang datang dari ruang kosong.

Tradisi ilmu kesejahteraan sosial Indonesia telah lama membicarakan hubungan antara kesejahteraan, pembangunan, pemberdayaan, komunitas, dan lingkungan.

Isbandi Rukminto Adi, misalnya, menempatkan pembangunan sosial dan pembangunan yang berpusat pada manusia sebagai bagian penting dalam memahami kesejahteraan sosial.

Dalam pemikirannya, kesejahteraan sosial tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan dan intervensi sosial pada berbagai tingkat.

Perspektif tersebut menjadi relevan ketika kita berbicara tentang green career.

Mengapa?

Karena transisi menuju ekonomi hijau bukan hanya membutuhkan teknologi hijau. Ia membutuhkan manusia yang mampu beradaptasi, masyarakat yang mampu berpartisipasi, dan kebijakan yang mampu memastikan agar manfaat pembangunan tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.

Di sinilah ilmu kesejahteraan sosial dapat memainkan peran.

Green Social Work dan Keadilan Sosial

Ada persoalan keadilan yang tidak boleh dilupakan. Kerusakan lingkungan tidak selalu dibayar secara proporsional oleh semua orang. Mereka yang memiliki sumber daya ekonomi lebih besar biasanya memiliki lebih banyak pilihan untuk menghindari risiko, berpindah tempat, memperoleh layanan kesehatan, atau memulihkan kehidupan setelah bencana.

Sebaliknya, kelompok miskin sering kali tinggal di wilayah yang lebih rentan, bekerja pada sektor yang lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan, dan memiliki sumber daya pemulihan yang lebih terbatas.

Di sinilah konsep keadilan sosial bertemu dengan keadilan lingkungan.

Meilanny Budiarti Santoso dan Nunung Nurwati, dalam kajian mengenai peran pekerjaan sosial dalam menangani persoalan lingkungan, menunjukkan bahwa praktik pekerjaan sosial dalam isu lingkungan memiliki legitimasi baik secara konseptual maupun dalam perkembangan organisasi profesi pekerjaan sosial di tingkat global.

Artinya, pekerja sosial tidak sedang memasuki wilayah yang sama sekali asing.

Justru dunia sedang membawa pekerjaan sosial kembali kepada pertanyaan dasarnya:

Bagaimana meningkatkan kualitas hidup manusia?

Dan hari ini jawabannya semakin jelas: tidak mungkin tanpa lingkungan yang layak.

Green Social Worker Bukan Sekadar Pekerja Sosial yang Menanam Pohon

Menambahkan kata “green” di depan social work tidak semestinya hanya berarti menanam pohon setelah kegiatan komunitas selesai.

Green social work membutuhkan perubahan cara pandang.

Pekerja sosial perlu memahami bahwa persoalan lingkungan dapat menghasilkan persoalan sosial. Sebaliknya, persoalan sosial juga dapat memperbesar kerentanan ekologis.

Karena itu, kompetensi pekerja sosial masa depan perlu semakin terbuka terhadap isu perubahan iklim, kebencanaan, ketahanan komunitas, ketahanan pangan, energi, pengelolaan sumber daya, kesehatan lingkungan, ekonomi sirkular, serta pembangunan berkelanjutan.

Tetapi lebih dari itu, pekerja sosial perlu memiliki kemampuan untuk bekerja bersama masyarakat.

Sebab masyarakat bukan sekadar objek yang harus “diselamatkan”.

Masyarakat memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan untuk menemukan jalan keluar atas persoalannya sendiri.

Tugas pekerja sosial bukan datang sebagai orang yang paling tahu, tetapi membantu membuka ruang agar pengetahuan dan kekuatan masyarakat dapat bekerja.

Penelitian Riany Laila Nurwulan mengenai penerapan green social work dalam program CSR lingkungan di Bandung, misalnya, menunjukkan bahwa praktik pekerjaan sosial dapat mengintegrasikan peningkatan kesadaran lingkungan, pertanian berkelanjutan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Jadi green social work bukan teori yang berhenti di ruang kelas.

Ia dapat hadir di desa, perusahaan, sekolah, komunitas, lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan ruang-ruang kehidupan masyarakat lainnya.

Dari Kesejahteraan Sosial ke Kesejahteraan Ekologis

Adi Fahrudin membedakan kesejahteraan sosial dengan pekerjaan sosial. Kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai kondisi, program pelayanan, sekaligus bidang pelayanan, sedangkan pekerjaan sosial merupakan disiplin ilmu sosial terapan dan profesi berbasis praktik yang menjadi salah satu instrumen penting dalam arena kesejahteraan sosial.

Pembedaan ini penting. Sebab ketika kita berbicara tentang green social work, kita tidak sedang mengatakan bahwa seluruh persoalan lingkungan harus diselesaikan oleh pekerja sosial. Tidak. Pekerja sosial bukan ahli tunggal yang memiliki semua jawaban.

Persoalan ekologis membutuhkan kerja lintas disiplin.

Ada ahli lingkungan.

Ada ekonom.

Ada perencana wilayah.

Ada insinyur.

Ada tenaga kesehatan.

Ada ahli kebijakan publik.

Ada masyarakat lokal.

Dan ada pekerja sosial.

Pekerjaan sosial membawa kekuatan khasnya: menghubungkan manusia, komunitas, sumber daya, pelayanan, kebijakan, dan perubahan sosial.

Di sinilah green social work dapat menjadi jembatan.

Kampus dan Masa Depan Green Career

Perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membangun green career. Career center tidak cukup hanya menyediakan informasi lowongan kerja.

Career center perlu mulai memperkenalkan green career literacy: kemampuan mahasiswa mengenali perubahan dunia kerja yang berkaitan dengan keberlanjutan, mengidentifikasi green skills, membaca kebutuhan industri, serta menghubungkan kompetensi akademik dengan persoalan ekologis dan sosial.

Mahasiswa perlu dibantu menjawab pertanyaan:

Apa kompetensi saya?

Masalah apa yang dapat saya bantu selesaikan?

Industri apa yang sedang berubah?

Bgaimana perubahan ekologis menciptakan jenis pekerjaan baru?

Dan yang tidak kalah penting: pekerjaan seperti apa yang ingin saya bangun untuk kehidupan yang lebih berkelanjutan?

Bagi mahasiswa kesejahteraan sosial, pertanyaan itu menjadi semakin menarik.

Sebab mereka tidak hanya memiliki kesempatan bekerja sebagai pekerja sosial.

Mereka dapat masuk ke bidang community development, CSR, ESG, sustainability, pemberdayaan masyarakat, kebencanaan, environmental advocacy, social enterprise, sustainable livelihood, policy development, hingga pengembangan program keberlanjutan perusahaan dan pemerintah.

Dengan kata lain, green transition membuka ruang baru bagi lulusan kesejahteraan sosial.

Career Center Harus Mulai Berubah

Jika dunia kerja berubah, maka layanan karier juga harus berubah.

Career center tidak cukup menjadi tempat mahasiswa mencari lowongan.

Career center harus menjadi ruang untuk membaca masa depan pekerjaan.

Mahasiswa perlu dikenalkan pada perubahan struktur pekerjaan, green jobs, green skills, pekerjaan yang terdampak transisi energi, serta kompetensi yang dibutuhkan dalam ekonomi berkelanjutan.

ILO sendiri menekankan bahwa keterampilan untuk green jobs tidak terbatas pada keterampilan teknis lingkungan. Keterampilan kognitif dan sosial-emosional juga diperlukan agar pekerja mampu beradaptasi dengan proses transisi hijau.

Ini berarti pendidikan karier harus mulai bergerak:dari job seeking menuju career building; dari employment menuju employability; dari hard skills menuju kombinasi hard skills, soft skills, dan green skills;dan akhirnya, dari karier individual menuju karier yang memiliki dampak sosial-ekologis.

Karier sebagai Jalan Pengabdian

Pada akhirnya, kita perlu mengembalikan pembicaraan tentang karier kepada pertanyaan yang lebih sederhana sekaligus lebih mendasar.

Untuk apa kita bekerja?

Jawabannya tentu berbeda-beda.

Ada yang bekerja untuk keluarga.

Ada yang ingin mengembangkan dirinya.

Ada yang mengejar kebebasan finansial.

Ada yang ingin membangun perusahaan.

Ada yang ingin menjadi profesional di bidang tertentu.

Semua itu sah.

Tetapi barangkali ada satu ruang yang dapat kita tambahkan: kontribusi. Karier yang baik bukan hanya karier yang membuat seseorang naik secara personal.

Karier juga dapat menjadi ruang untuk membuat orang lain tumbuh, komunitas menjadi lebih kuat, dan lingkungan menjadi lebih terjaga.

Di situlah green career bertemu dengan green social work.

Dominelli mengingatkan bahwa pekerjaan sosial perlu memperhatikan hubungan antara kesejahteraan manusia dan lingkungan. Isbandi mengingatkan bahwa kesejahteraan sosial berkaitan dengan pembangunan sosial dan manusia. Para akademisi pekerjaan sosial di Indonesia juga semakin menunjukkan bahwa persoalan lingkungan merupakan wilayah yang sah dan penting bagi praktik pekerjaan sosial.

Keduanya bertemu pada satu kesadaran: manusia tidak dapat sejahtera sendirian. Kita membutuhkan masyarakat yang sejahtera.

Kita membutuhkan lingkungan yang sehat.

Kita membutuhkan pekerjaan yang layak.

Dan kita membutuhkan generasi pekerja yang mampu membaca hubungan di antara semuanya.

Kita sedang memasuki dunia kerja yang membutuhkan orang-orang yang tidak hanya mampu bekerja, tetapi juga mampu memahami perubahan.

Tidak hanya memiliki hard skills, tetapi juga memiliki green skills.

Tidak hanya mengejar pekerjaan, tetapi memahami dampak pekerjaannya.

Tidak hanya bertanya:

“Apa yang bisa saya dapatkan dari karier ini?”

Tetapi juga berani bertanya:

“Kehidupan seperti apa yang sedang saya bantu bangun melalui pekerjaan saya?”

Barangkali di sanalah karier menemukan maknanya yang lebih panjang.

Sebab pada akhirnya, kita semua sedang bekerja bukan hanya untuk mengisi CV.

Kita sedang ikut menentukan seperti apa dunia yang akan kita wariskan.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar