Senin, 21 September 2026

Bijak Berpendapat di Ruang Digital Merawat Akal Sehat, Martabat Manusia, dan Masa Depan Demokrasi (Bagian I)

 

Bijak Berpendapat di Ruang Digital

Merawat Akal Sehat, Martabat Manusia, dan Masa Depan Demokrasi

Muhammad Kholis Hamdy, S.Sos., S.H., M.IntDev.

Literasi Digital 21 September 2026

Bagian I — Ketika Satu Kalimat Bisa Mengubah Banyak Hal

Suatu pagi, seorang ibu di sebuah grup WhatsApp RT menerima pesan berantai. Isinya terdengar mendesak. Katanya ada penculik anak yang berkeliaran di lingkungan sekitar. Ada foto seorang laki-laki yang wajahnya tampak mencurigakan. Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol forward. Dalam hitungan menit, pesan itu berpindah ke puluhan grup lain. Orang-orang mulai resah. Anak-anak dilarang keluar rumah. Beberapa warga bahkan hampir menghentikan seseorang yang kebetulan wajahnya mirip dengan foto tersebut.

Beberapa jam kemudian baru diketahui bahwa kabar itu adalah berita lama dari daerah lain. Foto yang beredar pun tidak ada kaitannya dengan kasus yang sedang ramai dibicarakan.

Tidak ada niat jahat ketika ibu itu membagikan pesan tersebut. Ia hanya ingin melindungi tetangganya.

Lalu pertanyaannya sederhana: mengapa niat baik kadang menghasilkan akibat yang buruk?

Pertanyaan itu mungkin lebih penting daripada sekadar bertanya bagaimana cara menggunakan media sosial. Sebab persoalan terbesar di ruang digital hari ini bukan lagi apakah kita bisa mengakses internet. Hampir semua orang sudah bisa. Persoalannya adalah apakah kita sudah siap hidup bersama di dalamnya.

Hari ini kita hidup di zaman ketika setiap orang membawa sebuah ruang publik di dalam genggaman. Dahulu, seseorang harus memiliki surat kabar, stasiun radio, atau mimbar untuk menyampaikan pendapat kepada banyak orang. Sekarang cukup dengan satu akun media sosial dan satu tombol "unggah", sebuah pendapat dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang.

Ini adalah perubahan yang luar biasa.

Namun setiap perubahan selalu membawa dua wajah. Teknologi membuka kesempatan yang belum pernah kita miliki sebelumnya. Di sisi lain, ia juga memperbesar konsekuensi dari setiap tindakan kecil yang kita lakukan.

Satu komentar dapat menyemangati seseorang yang sedang putus asa.

Satu komentar yang lain dapat membuat seseorang kehilangan pekerjaannya.

Satu unggahan dapat menggerakkan aksi solidaritas.

Satu unggahan lain dapat memecah sebuah komunitas.

Maka berbicara tentang literasi digital sebenarnya bukan sekadar berbicara tentang telepon pintar, aplikasi, atau algoritma. Kita sedang berbicara tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lain ketika mereka tidak saling berhadapan secara langsung.

Di sinilah tema "Bijak Berpendapat di Ruang Digital" menemukan maknanya.

Bukan sebagai slogan.

Tetapi sebagai cara hidup.

Apakah Ruang Digital Benar-Benar "Dunia Maya"?

Kita sering menyebut internet sebagai "dunia maya". Istilah itu terdengar ringan, seolah-olah apa yang terjadi di sana tidak sepenuhnya nyata.

Padahal coba kita renungkan.

Jika seseorang kehilangan reputasi karena fitnah di media sosial, apakah rasa malunya tidak nyata?

Jika seorang remaja mengalami perundungan daring hingga kehilangan kepercayaan diri, apakah luka psikologisnya hanya ilusi?

Jika sebuah gerakan kemanusiaan berhasil mengumpulkan bantuan miliaran rupiah melalui media sosial, apakah dampaknya tidak sungguh-sungguh dirasakan?

Ternyata ruang digital tidak pernah benar-benar maya.

Yang maya hanyalah medianya.

Akibatnya tetap nyata.

Filsuf Prancis Jean Baudrillard pernah berbicara tentang bagaimana media dapat menciptakan situasi ketika batas antara kenyataan dan representasi menjadi kabur. Ia menyebutnya hyperreality. Dalam kehidupan sehari-hari, konsep itu sebenarnya mudah kita lihat.

Kadang orang lebih percaya potongan video lima belas detik daripada penjelasan lengkap satu jam.

Kadang foto yang dipotong dari konteks dianggap sebagai kebenaran utuh.

Kadang sebuah judul menjadi lebih dipercaya daripada isi beritanya sendiri.

Bukankah kita sering mengalaminya?

Karena itu, setiap kali kita memasuki ruang digital, sesungguhnya kita sedang memasuki ruang tempat persepsi dibentuk secepat jempol bergerak.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Bukan untuk takut berbicara.

Tetapi untuk menyadari bahwa setiap kata memiliki kehidupan setelah kita menekan tombol kirim.

Di Balik Setiap Akun Ada Manusia

Saya pernah mendengar seorang fasilitator pelatihan disabilitas mengajukan pertanyaan sederhana kepada peserta.

"Kalau orang itu duduk di depan Anda sekarang, apakah Anda akan mengatakan kalimat yang sama?"

Ruangan langsung hening.

Pertanyaan itu tampaknya sederhana.

Namun ia membuka sesuatu yang sering hilang ketika kita berkomunikasi melalui layar.

Empati.

Layar sering membuat kita lupa bahwa di balik foto profil ada seseorang yang memiliki keluarga, pekerjaan, pengalaman hidup, bahkan luka yang tidak kita ketahui.

Kita menjadi lebih berani menyerang karena merasa tidak sedang melihat wajah manusia lain.

Padahal justru di situlah tantangan terbesar kehidupan digital.

Filsuf Martin Heidegger berbicara tentang manusia sebagai makhluk yang selalu hadir bersama dunia dan bersama orang lain. Kita tidak hidup sendirian. Keberadaan kita selalu terhubung dengan keberadaan orang lain.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, identitas kita dibentuk oleh cara kita berelasi.

Media sosial tidak mengubah kenyataan itu.

Ia hanya mengubah cara relasi tersebut terjadi.

Karena itu, literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi. Ia adalah kemampuan menjaga kemanusiaan ketika teknologi membuat jarak terasa lebih dekat tetapi hubungan justru bisa menjadi lebih dingin.

Mengapa Kita Mudah Terjebak dalam Kemarahan?

Pernahkah Anda bertanya mengapa media sosial terasa lebih mudah memancing emosi dibanding percakapan langsung?

Mengapa komentar yang marah sering mendapat lebih banyak perhatian?

Mengapa kabar buruk terasa menyebar lebih cepat daripada kabar baik?

Jawabannya tidak sesederhana menyalahkan pengguna.

Ada sesuatu yang bekerja di belakang layar.

Algoritma.

Bayangkan seorang pedagang di pasar. Ia tentu akan meletakkan barang yang paling menarik perhatian di bagian depan tokonya.

Platform digital bekerja dengan logika yang mirip.

Konten yang membuat orang berhenti menggulir layar akan lebih sering ditampilkan.

Masalahnya, kemarahan sering kali lebih mudah menghentikan perhatian daripada ketenangan.

Di sinilah kita perlu mengenal dua istilah yang terdengar akademis tetapi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Yang pertama adalah echo chamber.

Bayangkan Anda berada di sebuah ruangan yang setiap suara dipantulkan kembali kepada Anda. Lama-kelamaan Anda merasa bahwa hanya suara itulah yang ada.

Di media sosial, ini terjadi ketika kita hanya mengikuti orang-orang yang sepakat dengan kita.

Lalu muncullah keyakinan bahwa semua orang berpikir sama.

Padahal belum tentu.

Yang kedua adalah filter bubble.

Kalau echo chamber banyak dipengaruhi pilihan kita sendiri, filter bubble lebih banyak dibentuk oleh algoritma.

Misalnya Anda beberapa kali menonton video tentang topik tertentu. Platform kemudian menyimpulkan bahwa Anda menyukai tema itu.

Akhirnya Anda terus disuguhi konten serupa.

Tanpa sadar, dunia menjadi semakin sempit.

Bukan karena dunia berubah.

Tetapi karena jendela yang kita lihat semakin kecil.

Belajar Meragukan dengan Cara yang Sehat

Di sekolah kita diajarkan agar percaya kepada guru.

Di rumah kita diajarkan agar percaya kepada orang tua.

Di masyarakat kita belajar mempercayai tokoh yang kita hormati.

Namun internet menghadirkan situasi baru.

Di sana, semua orang bisa terlihat meyakinkan.

Semua orang bisa berbicara dengan percaya diri.

Semua orang bisa membuat desain yang tampak profesional.

Lalu bagaimana kita membedakan mana informasi yang layak dipercaya?

Filsuf René Descartes pernah mengembangkan gagasan tentang methodological doubt—keraguan yang teratur.

Ini bukan ajakan untuk mencurigai semua orang.

Bukan pula ajakan menjadi sinis.

Melainkan kebiasaan untuk bertanya sebelum percaya.

  • Dari mana informasi ini berasal?
  • Apakah ada sumber lain yang mendukung?
  • Apakah judulnya sesuai dengan isi?
  • Apakah saya sedang bereaksi karena fakta atau karena emosi?

Kebiasaan bertanya seperti ini mungkin terasa melelahkan.

Tetapi justru di situlah letak literasi digital.

Bukan pada kecepatan membagikan informasi.

Melainkan pada kedisiplinan menahan diri sebelum membagikannya.

Kadang tindakan paling bijak di media sosial bukan menulis sesuatu.

Melainkan tidak menulis apa-apa selama lima menit.

Lima menit yang cukup untuk berpikir.

Lima menit yang cukup untuk memeriksa ulang.

Lima menit yang mungkin menyelamatkan banyak orang dari kesalahpahaman.

Ruang Publik yang Kita Bangun Bersama

Sosiolog Jürgen Habermas pernah membayangkan ruang publik sebagai tempat warga bertemu untuk berdiskusi secara rasional tentang persoalan bersama.

Hari ini ruang itu sebagian besar berpindah ke internet.

Namun pertanyaannya menjadi berbeda.

Apakah ruang digital kita benar-benar menjadi tempat berdialog?

Ataukah ia berubah menjadi arena menang-kalah?

Kita bisa melihat keduanya setiap hari.

Ada komunitas yang menggunakan media sosial untuk berbagi ilmu, menggalang bantuan, mengorganisasi relawan, dan memperkuat solidaritas.

Ada pula ruang yang dipenuhi ejekan, penghinaan, dan perlombaan menjadi yang paling keras.

Teknologinya sama.

Yang berbeda adalah budaya yang dibangun di dalamnya.

Dan budaya selalu dimulai dari kebiasaan kecil.

Dari cara kita menyapa.

Dari cara kita mengkritik.

Dari cara kita meminta maaf.

Dari cara kita mengakui ketika ternyata kita keliru.

Mungkin di situlah inti dari menjadi warga digital.

Bukan menjadi orang yang selalu benar.

Tetapi menjadi orang yang bersedia belajar ketika ternyata salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar