Sabtu, 24 Oktober 2026

Menembus Tembok Gema: Karhutla, Kepemimpinan, dan Krisis Nurani di Era Digital

Siang menjelang sore, di tengah kehangatan keluarga menyambut kedatangan bibi umrah, menceritakan leganya menghirup udara tenang, yang memantik topik yang ramai dibicarakn di social media. Dari ruang keluarga sederhana, diskusi bergeser ke guyon-guyon reflektif tentang topik kekininan; karhutla. Sepertinya, memang Karhutla ini jadi bahan obrolan lintas lapisan masyarakat dan tempat.

Ada dua poin yang jadi obrolan utama, bahwa setiap musim kemarau, langit Indoensia berubah kelam. Kabut asap pekat merayap, menusuk mata, dan merampas hak dasar warga negara menghirup udara bersih, terutama di Kalimantan dan Sumatera. Di tengah jeritan sesak napas warga, ruang publik disuguhi ironi digital: echo chamber, ruang gema yang kedap suara akal sehat.

Kedua, satu sisi, narasi resmi berhamburan dari pusat kekuasaan. Di sisi lain, media sosial bergemuruh riuh oleh rekaman amatir, isak tangis warga, serta gugatan pedas terhadap lambungnya mitigasi negara. Karhutla sepertinya telah bermutasi menjadi ujian moral telanjang atas integritas kepemimpinan nasional dan kejernihan nurani publik. Berikut poin-poin kecil yang jadi perbincangan yang penuh canda namun berbobot, versi penulis.

Ketika Kebijakan Bertarung dengan Ilusi Algoritma

Realitas digital yang menyesakkan ini menemukan deskripsi teoretisnya yang amat pas dalam konsep Echo Chamber dan Filter Bubble yang diperkenalkan oleh Cass Sunstein lewat karya monumentalnya. Kita bisa melihat bagaimana arsitektur komunikasi modern hari ini secara dingin mengurung kita dalam kepompong informasi homogen, mengisolasi individu mentah-mentah dari sudut pandang lain yang sejatinya nyata.

Di ruang tertutup yang makin pengap ini, algoritma media sosial rasanya dengan sengaja memanjakan confirmation bias kita. Pendukung kekuasaan disuguhi visual water bombing yang dramatis dan angka penurunan hotspot yang seolah rapi, merajut keyakinan semu bahwa negara telah bekerja tanpa cela. Sebaliknya, kita menyaksikan betapa masyarakat sipil dan warga terdampak terkunci rapat dalam ruang gema penderitaan mereka sendiri: menelanjangi korporasi nakal yang dengan angkuhnya melenggang tanpa sanksi setimpal, sekaligus meragukan komitmen jangka panjang pemangku kebijakan yang terkesan omong kosong.

Ironisnya, jebakan echo chamber ini terasa kian gawat tatkala merangsek masuk dan membentengi bilik kekuasaan tertinggi. Menurut pengamatan saya, Presiden sendiri kerap terisolasi di dalam "ruang gema istana", di mana lingkaran terdekat dan birokrasi tiada henti menyuarakan informasi yang serba manis dan seragam, sebuah yes-men syndrome yang menyuguhkan dongeng seolah semuanya terkendali sempurna. Di sekeliling Presiden, nyaris tidak ada lagi kritik tajam yang dibiarkan menembus meja kerja, menciptakan ilusi berbahaya bahwa bencana di lapangan telah tuntas diatasi.

Kenyataan pahit keterisolasian istana ini rasanya kian telanjang dan menampar kita semua tatkala menteri kesehatan yang baru saja turun langsung meninjau lapangan selama sehari, justru harus ikut tersiksa menghirup udara beracun dan terpaksa memakai tabung oksigen akibat pekatnya asap. Peristiwa simbolik yang tragis ini menjadi bukti tak terbantahkan bagi saya betapa laporan di atas kertas dan meja rapat ber-AC di ibu kota sejatinya berjarak ribuan mil dari realitas sesak napas yang diderita rakyat kecil di daerah bencana.

Diskursus kebangsaan kita telanjur terjebak dalam polarisasi yang sangat mandul. Data empiris lebur tak berbekas di bawah badai sentimen emosional. Dalam titik nadir yang memprihatinkan ini, saya meyakini kehadiran pemimpin negara seharusnya menjadi pemecah kebekuan menjadi jangkar rasionalitas yang berani meruntuhkan tembok gema dengan ketelanjangan fakta yang sesungguhnya.

Kendati demikian, teori Agenda Setting yang dirintis Maxwell McCombs dan Donald Shaw, bersanding mesra dengan Framing Theory Erving Goffman, menunjukkan betapa membagongkannya pertarungan pembingkaian masalah yang kerap ditekuk oleh narasi elitis. Saya gusar melihat bagaimana pemerintah begitu gemar membingkai (framing) Karhutla sebagai "takdir" faktor alam atau amukan cuaca ekstrem (El NiƱo), upaya sistematis yang terasa bersilat lidah demi mencuci tangan dari tanggung jawab struktural. Sementara itu, publik di media sosial membingkainya secara tajam sebagai "kegagalan penegakan hukum dan kelalaian birokrasi". Respon istana yang melulu berlindung di balik bahasa pertahanan birokratis ini membuktikan betapa menganganya jurang pemisah antara menara gading penguasa dan penderitaan nyata rakyat kecil.

Karhutla, Ketimpangan, dan Tragedi Kesejahteraan Sosial

Jika kita mau sedikit saja menyelam lebih dalam melampaui hiruk-pikuk dunia maya yang melelahkan, Karhutla sejatinya adalah wujud nyata runtuhnya pilar kesejahteraan sosial (social welfare) dan keadilan distributif kita. Bagi saya, dalam tradisi pemikiran pembangunan yang bermartabat, kesejahteraan sosial sama sekali tidak boleh diukur sekadar dari deretan angka pertumbuhan makroekonomi yang elok di atas kertas, melainkan dari seberapa tangguh negara membentengi kelompok rentan dari hantaman risiko struktural.

Perspektif luhur ini berakar kuat dalam gagasan sosiolog kesejahteraan sosial Richard Titmuss. Dalam Commitment to Welfare, Titmuss menegaskan bahwa institusi sosial dan negara mengemban mandat moral yang amat fundamental: memastikan beban krisis tidak pernah ditimpakan secara semena-mena kepada mereka yang paling marjinal. Namun sayangnya, ketika hutan dibakar atau dibiarkan menjadi abu demi melanggengkan nafsu ekspansi industri ekstraktif, korporasi dengan serakah mengeruk kekayaan privat, sementara ongkos ekologi dan sosialnya ditanggung mentah-mentah oleh masyarakat umum nan kecil—petani tradisional, masyarakat adat, hingga anak-anak kita yang kehilangan hak atas udara bersih.

Gugatan nurani ini menemukan resonansi yang amat kuat pada pemikiran ekonom peraih Nobel, Amartya Sen, lewat kerangka Capability Approach (Pendekatan Kapabilitas). Sen dengan bernas berargumen bahwa kebijakan publik harus ditimbang berdasarkan sejauh mana ia memperluas kapabilitas substantif manusia untuk menjalani hidup yang bermartabat. Saya merasa miris menyaksikan kabut asap karhutla yang merusak kesehatan, melumpuhkan ruang belajar anak, serta memutus urat nadi penghidupan, secara nyata merampas kapabilitas dasar rakyat tanpa sisa. Tatkala negara gagal melakukan pencegahan atau lamban memulihkan keadaan, bagi saya negara tidak sekadar mengalami disfungsi ekologis, melainkan telah secara terang-terangan mengkhianati substansi hakiki dari kontrak sosial kesejahteraan rakyat.

Kepemimpinan Krisis dan Kehilangan Orientasi Amanah

Dalam lanskap pemikiran Islam, kekuasaan (hukm atau wilayah) bukan sekadar panggung kehormatan, melainkan amanah Ilahi yang amat berat. Di pundak pemimpin, kekuasaan kelak dihisab, bukan hanya atas apa yang diperbuat, tetapi juga atas apa yang diabaikan, sebagaimana pesan profetik: kullukum ra'in wa kullukum mas'ulun an ra'iyyatihi. Semesta alam, dalam teologi Islam, diletakkan sebagai amanah transendental yang wajib dijaga keseimbangannya, bukan komoditas murah dieksploitasi demi keuntungan ekonomi sesaat.

Berulang-ulangnya tragedi Karhutla mengonfirmasi defisit akut dalam dimensi Crisis Leadership Theory yang dipetakan Arjen Boin. Terutama pada aspek sense-making (ketajaman membaca realitas objektif) dan meaning-making (kapasitas merumuskan arah kebijakan solutif). Presiden sebagai pemegang komando tertinggi tidak boleh terisolasi di dalam echo chamber kekuasaan, di mana pembantu di sekelilingnya terus menyuarakan informasi serba sama dan menyenangkan hati (yes-men syndrome).

Suara kritis dari media sosial maupun media massa independen seharusnya tidak dipandang gangguan politik yang harus dibungkam, melainkan diterima sebagai bentuk teguran moral atau muhasabah sosial. Ketika ibu di daerah bencana berjibaku merawat anak terserang ISPA, sementara pembuat kebijakan di pusat sibuk berdebat ego statistik, di situlah letak keretakan paling parah dari nurani kekuasaan. Negara gagal menunaikan kewajiban utama: melindungi jiwa manusia (hifdzun nafs) dan merawat kelestarian bumi (hifdzul bi'ah).

Meruntuhkan Tembok Gema, Membangun Politik Empati

Untuk keluar dari kubangan krisis kronis ini, saya rasa perombakan radikal dalam laku negara merespons bencana ekologis, berlandaskan akuntabilitas publik jujur (public accountability).

Pertama, kepemimpinan nasional harus memiliki keberanian moral merangsek keluar dari filter bubble dan ruang gema istana. Presiden wajib membuka ruang dialog otentik dan membumi, memadukan data birokrasi dengan data partisipatif (crowdsourced data) langsung dari jeritan masyarakat terdampak, tanpa saringan birokrasi orang terdekat yang memperhalus kepahitan lapangan. Keputusan sendiri (agency) pimpinan negara untuk berani keluar dari jargon "saya mendapatkan laporan," menentukan seberapa jauh ia keluar dari ilusi informasi di sekelingnya.

Kedua, dunia pers dan media massa yang mengemban marwah pengawas sosial (watchdog) harus konsisten merawat independensinya. Media tidak boleh melacurkan diri menjadi corong humas instansi pemerintah, melainkan teguh menjadi penyambung lidah bagi mereka yang suaranya dibungkam bising algoritma pencitraan. Netizen terus meramaikan dunia maya dengan kritik-kritik tajam terukur ke individu dan lembaga bertanggung jawab dan erat melekat dengan Karhutla ini. 

Ketiga, penegakan hukum harus dibuktikan nyata dan terbuka. Di tengah sorotan tajam ini, aparat kepolisian melalui Bareskrim Polri bersama 10 Polda jajaran, sesungguhnya tengah menyelidiki dan menaikkan status hukum terhadap 98 laporan serta kasus korporasi pembakar lahan. Dari total puluhan korporasi yang diperiksa dan masuk tahap penyidikan, Polri sejauh ini telah menetapkan 9 korporasi sebagai tersangka, sementara kasus korporasi lainnya terus diproses maraton pengumpulan alat bukti matang. Penegakan hukum ini harus dikawal ketat tanpa pandang bulu dan kompromi. Selama hukum menunjukkan tabiat "tumpul ke atas, tajam ke bawah", retorika penanganan karhutla selamanya hanya menjadi teater kosong pengelabuan publik.

Merenungkan semua ini di tengah kehangatan keluarga menyadarkan kita bahwa mengurus negara bukan sekadar soal angka di atas kertas atau panggung pencitraan digital. Karhutla adalah cermin peradaban yang amat jujur; kaca benggala yang memantulkan rupa moralitas ekologis dan politik kita hari ini. Sudah tiba waktunya negara berhenti bersembunyi di balik ketiak dalih cuaca, dan mulai membangun fondasi mitigasi berpijak pada keadilan sosial. Kepemimpinan sejati tidak pernah diukur dari seberapa megah narasi yang ditenun di panggung digital, melainkan dari seberapa tulus tangan negara hadir memadamkan api penderitaan di dada rakyatnya sendiri. Silaturahim keluarga ini tidak hanya melegakan uneg-uneg pikiran masing-masing, tapi juga nutrisi intelektual. Slogan "pantang pulang sebelum kenyang" sukses dicapai oleh host kumpul-kumpul ini dengan 1 kali makan siang dan 1 kali makan malam.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar